Ukiran Burung Woro, Jelmaan Roh Leluhur Karya Seniman Asmat

Last modified date

Senyum ceria tampak di wajah seniman muda Paskalis Besak asal Kampung Sawa Distrik Sawa-Erma. Lelaki rumpun Unir Sirau ini berhasil masuk sebagai salah satu seniman yang bakal berkompetisi dengan para seniman lain dari distrik lain pada Pesta Budaya Asmat, Oktober mendatang.

Proses pengumpulan karya sudah berlangsung sejak 12 Agustus 2017 dan Besak mendapat nomor urut 104. “Saya senang sekali karena ukiran yang saya buat mendapat kartu nomor ke-4 setelah seleksi di Distrik Sawa-Erma ini,”ujar Besak dengan dialek Asmatnya yang kental. Artinya, karya ukirannya terpilih untuk bersaing di tingkat kabupaten.

Seniman berumur 29 tahun ini menerangkan bahwa ukiran kategori panel ini mengisahkan tentang seekor burung raksasa yang terkenal dalam sejarah Suku Asmat.

“Pada zaman dulu, burung raksasa yang kami sebut Woro memimpin perjalanan nenek moyang kami dari tempat awal menuju wilayah Asmat sekarang. Burung Woro yang memberitahu mereka harus mendayung perahu melewati sungai-sungai tertentu sampai tempat para leluhur menetap dan membangun rumah tinggal hingga sekarang,”ujar Besak.

Suku Asmat, lanjut Besak percaya bahwa Woro adalah jelmaan roh yang dalam sejarah juga menghidupkan kembali leluhur bernama Fumiripits yang terdampar di Pantai Asmat (Pantai laut Arafura). Ukiran “panel” Paskalis Besak terbuat dari akar kayu besi yang lebar. Seniman ini memilih akar kayu untuk menciptakan ukiran karena serat kayu yang padat dan saling menyilang memudahkan mereka memahat aneka motif dan pola yang terhubung satu sama lain. Selain itu serat kayu yang padat membuat kayu tidak muda pecah ketika dipahat.

Wowipits (pengukir) Paskalis Besak bersama 32 seniman Asmat lain dari wilayah Distrik Sawa-Erma terpilih dalam seleksi tingkat Distrik di Pos, ibukota Distrik Sawa-Erma, Minggu 1/10.

Mereka akan bergabung dengan para pengukir lain maju dan berkompetisi dengan para seniman lain dari distrik lain di Asmat, Papua pada Pesta Budaya Asmat ke-32 yang bakal digelar 19-24 Oktober. Para seniman lain seperti penari, pendayung juga akan meramaikan pesta budaya ini.

Uxegyz