Antonela Tanlain, Pendidik Gigih di Asmat Papua

Last modified date

Medan Asmat yang dialiri ribuan sungai dengan tanahnya yang berlumpur serta minimnya berbagai akses publik menjadi tantangan tersendiri bagi para pendatang yang bekerja di wilayah Papua Selatan ini.

Meski demikian, banyak guru yang berbakti dan mampu mengatasi segala tantangan yang ada. Antonela Tanlain, guru asal Kei Maluku Tenggara ini salah satunya. Setiap hari ia harus menyeberangi sungai berair kelabu untuk mendidik anak-anaknya di Kampung Er Distrik Sawa-Erna, Kabupaten Asmat.

“Saya tinggal di Jalan Pos, ibu kota Distrik Sawa-Erma, tapi karena tugas maka setiap hari harus menyeberangi Sungai Pomats ini untuk mengajar,” ujar Mama Nelly yang telah menetap di Asmat sejak 1986 ini penuh semangat.

Bersama tiga staf gurunya, Kepsek TK Negeri Persiapan Er ini menggunakan perahu lesung Asmat yang setia didayung oleh Elias Yakas, pemuda Asmat asal Kampung Sawa.

Sungai Pomats yang 1,5 mil lebarnya, warna air yang kelabu kecoklatan serta arus pasang-surut yang deras tidak mematahkan semangat Mama Nelly untuk berbakti bagi putra-putri pribumi Asmat.

“Setiap pagi kami membawa dan menyiapkan makanan untuk 103 anak yang kami didik. Makanan dan barang bawaan lain, ujar Mama Nelly sering membuat perahu tidak seimbang dan guru-guru takut jangan sampai perahu tenggelam. Tapi syukurlah meski selama ini seringkali sungai berombak karena air pasang-surut, kami tidak mengalami bencana,” tutur penggerak PKK Distrik Sawa-Erma ini mengakhiri penjelasannya.

Uxegyz